Origins and Development of the Sufi Orders (tarékat) in Southeast Asia
Year: 1994
Type: article
Abstract: Saat Islam datang ke Indonesia, sufisme sedang \nmengalami masa kejayaan. Akibatnya, Islam yang kemudian \ndatang ke Indonesia juga tidak dapat lepas dari pengaruhnya. Hal \nitu terbukti dari perkembangan pemikiran Islam di Indonesia yang \nlekat dengan warna sufinya. \nDalam konteks Indonesia, Islam sufistik ini mempunyai nilai \ntersendiri. Komunitas Nusantara yang sudah terbiasa dengan \ntradisi mistik Hindu-Budha relatif lebih mudah mengadopsi Islam \nsufistik ini dibanding dengan Islam puritan. Banyak kemiripan \nantara tradisi mistik Hindu-Budha dan sufi; kedekatan ini pada \nakhirnya mempermudah kalangan istana untuk mengadopsi Islam \ndan mengolahnya dengan tradisi lama. \nPada saat sufisme menjadi fenomena masal dan dipraktekkan \nmelalui perkumpulan-perkumpulan atau tarekat (tariqah), ia tidak \nlagi hanya berfungsi keagamaan. Keberadaan tarekat memungkinkan \npersoalan kemasyarakatan untuk turut menjadi bagian dari \ngerakan keagamaan. Pada zaman kolonial umpamanya, gerakan \nperlawanan dan pemberontakan banyak difasilitasi oleh tarekattarekat. \nI a tidak hanya menyediakan ajaran-ajaran kontemplatifkeagamaan, \nmelainkan juga sarana bagi kegiatan sosial-politik. Ketika modernisasi merambah masyarakat, sufisme juga mengalami \nperubahan. Sifat rural pengikut tare kat mulai diimbangi oleh \npengikut yang urban. Masalah yang ditangani oleh kalangan sufi \njuga semakin banyak berkaitan dengan persoalan yang muncul dari \nproses besar modernisasi. Sufi tidak lagi menyediakan seperangkat \najaran keagamaan, tetapi juga turut berkecimpung dalam persoalan \nlain, seperti narkotika atau persoalan psikologis lain yang banyak \nmuncul dalam masyarakat modern.
Author: Martin van Bruinessen
Language: English
Subfield: Cultural Studies
Field: Social Sciences
Domain: Social Sciences
Open Access status: green
OpenAlex ID: W2340602240
