Kecerdasan Emosi Pemimpin Sebagai Tolok Ukur Gereja Yang Sehat
Year: 2019
Type: preprint
Abstract: Hampir tidak ada gereja yang tidak mengalami konflik, gereja banyak menampung orang yang sakit, lelah secara emosi, putus asa, terluka. Terlalu sering orang-orang yang terluka diberi tahu bahwa respon emosional mereka adalah salah atau berdosa”. Kegagalan gereja sering sering terjadi merupakan kesalahan dari pemimpin gereja dalam menyadari bahwa orang-orang yg terluka memerlukan perasaan mereka dimengerti dan butuh tempat untuk mengeluarkan kepahitan serta keinginan untuk didengar. Gereja memerlukan pemimpin rohani baik yang berbentuk kepemimpinan tunggal maupun majemuk. Dan sudah menjadi percakapan umum di kalangan Kristen untuk menilai apakah sebuah gereja bertumbuh/sehat dengan tanda-tanda perkembangan secara kualitas dan kuantitas. Penilaian ini juga berhubungan erat dengan pemimpin rohani gereja: adakah ia memiliki IQ (kecerdasan intelektual) tinggi? Senioritas yang sudah lebih banyak makan garam pengalaman? Bagaimana dengan “orang biasa yang tidak terpelajar” seperti Petrus dan Yohanes (Kis.4:13) yang membuat pemimpin Yahudi dan tua-tua/ahli Torat heran atas keberanian mereka. Banyak pemimpin gereja pada masa kini memberikan terlalu banyak penekanan atas keberhasilan menjadikan gereja sehat pada pengetahuan dan bakat saja. Jika bakat dan kognitif saja sudah cukup, mengapa anda dan saya mengenal banyak pemimpin rohani dengan kecerdasan intelektual (IQ) tinggi dan berbakat yang tidak begitu sukses untuk membangun gereja yang sehat. Dari uraian di atas penulis mencoba menganalisi sedikitnya dua hal: Pertama, Bagaimana interpretasi mengenai kecerdasan emosi secara proporsional, teologis ? Kedua, Mencari relevansi Kecerdasan Emosi Spiritual Quotient/EQ dalam kaitannya dengan pemimpin rohani gereja yang sehat?
Author: Fredy Simanjuntak
Language: Indonesian
Subfield: Religious studies
Field: Arts and Humanities
Domain: Social Sciences
Open Access status: green
OpenAlex ID: W4236478613
