Work

Mamasa-Kristen dan Kematian Anggota Keluarganya

Year: 2022
Type: article
Abstract: Kematian anggota keluarga seringkali meninggalkan duka yang mendalam. Karena itu, dalam berbagai kebudayaan telah tersedia mekanisme penghiburan sebagaimana yang juga ditemukan dalam Aluk Toyolo. Namun demikian, adakalanya mekanisme itu mendapat penentangan dalam kekristenan dengan alasan tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Gereja bahkan menetapkan sanksi bagi anggota jemaat yang tetap menjalankannya. Situasi ini tentu saja menjadi dilema bagi mereka yang hidup dalam dua tradisi, yaitu budaya leluhur dan kekristenan. Mamasa-Kristen yang dikenal dengan sejumlah ritus kematian merupakan salah satu komunitas yang mengalami dilema ini. Gereja Toraja Mamasa (GTM), melalui sejumlah keputusan dalam sidang sinode, pernah menetapkan sejumlah larangan bahkan sanksi yang dimaksud. Kenyataannya, beberapa ritus yang dilarang masih saja dilakukan secara terbuka. Kini, dilema itu tidak saja dialami oleh anggota jemaat, tetapi juga oleh gereja. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dilema tersebut? Tulisan ini mengusulkan sebuah dialog dalam ranah hermeneutika biblis yang dikenal dengan Hermeneutika Lintas-Tekstual. Dari dialog tersebut, ditemukanlah sejumlah titik temu antara konsep kematian dalam budaya leluhur Mamasa dengan konsep kematian dalam surat Paulus. Perbedaan di antara keduanya juga ada, namun perbedaan yang memperkaya juga tampak jelas. Melalui dialog ini, pemahaman terhadap teks 1 Tesalonika 4:14 tentang kematian justru dapat diperkaya melalui sejumlah ritus kematian dalam Aluk Toyolo.
Language: Indonesian
Subfield: Anthropology
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W4285593244
FWCI: 3.946
Cites: 15
Cited by: 4
Related to: 10