Year: 2024
Type: article
Study design: Observational Study
Abstract: ABSTRACTBackground: In Central Java, the incidence of anemia among women of childbearing age is 39.5%. Anemia in women of childbearing age can be caused by menstruation and inadequate diet. In addition to its correlation with a deviant diet, night eating syndrome also correlates with body mass index. Body mass index is used to categorize normal, underweight, and obese body weight.Objective: this study was to find out the correlation of night eating syndrome and BMI to Anemia in Midwifery Students of Unissula.Method: It used quantitative research with cross-sectional approach. The samples in this study were 62 students of the Unissula Midwifery Undergraduate Study Program. The independent variables are Night Eating Syndrome (NES) and Body Mass Index (BMI) and the dependent variable is anemia. The correlation test uses Spearman with SPSS 29.0.Results: The results showed that the majority of 47 respondents (76%) did not experience night eating syndrome, 47 respondents (76%) had normal BMI, and also 41 respondents (66%) had normal rate Haemoglobin. The correlation results showed that there was no correlation between night eating syndrome and anemia with a p-value = 0.771 (p>0.05). Moreover, there was no correlation between body mass index and anemia with a p-value = 0.168 (p>0.05).Conclusion: There is no correlation between night eating syndrome and anemia and no correlation between body mass index and anemia. This is related to the respondents' age and high education so that respondents can understand the need for proper nutrition to prevent anemia.Keywords: Anemia; body mass index; night eating syndromeABSTRAKLatar Belakang: Di Jawa Tengah angka kejadian anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) yakni sebesar 39,5%. Anemia pada wanita usia subur dapat disebabkan oleh menstruasi dan pola makan yang tidak memadai. Selain hubungannya dengan pola makan menyimpang, sindrom makan malam juga berkorelasi dengan indeks massa tubuh. Indeks massa tubuh digunakan untuk mengkategorikan berat badan tubuh normal, kurus dan gemuk. Tujuan: Mengetahui hubungan Sindrom Makan Malam dan IMT terhadap Anemia pada Mahasiswi Kebidanan Unissula. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 62 Mahasiswi Program Studi Sarjana Kebidanan Unissula. Variabel independen yakni Sindrom Makan Malam (SMM) dan Indeks Massa Tubuh (IMT) lalu variabel dependen adalah anemia. Uji korelasi menggunakan Spearman dengan SPSS 29.0. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas 47 responden (76%) tidak mengalami sindrom makan malam, 47 responden (76%) memiliki IMT normal, dan 41 responden (66%) responden memiliki kadar Hb normal. Hasil korelasi menunjukan tidak adanya hubungan antara sindrom makan malam dan anemia dengan nilai p= 0,771 (p>0,05). Serta tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dan anemia dengan nilai p= 0,168 (p>0,05).Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara sindrom makan malam dengan anemia dan tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan anemia. Hal ini berhubungan dengan usia responden dan pendidikan responden yang tinggi sehingga responden dapat memahami perlunya zat gizi yang tepat untuk mencegah terjadinya anemia. Kata Kunci: Anemia; indeks massa tubuh; sindrom makan malam
Source: Journal of Nutrition College
Authors: Rania Nadita Rahman, Noveri Aisyaroh, Meilia Rahmawati Kusumanigsih
Institution: Sultan Agung Islamic University
Language: English
Subfield: Hematology
Field: Medicine
Domain: Health Sciences
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W4406937876
