Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Bingkai Filsafat Perenial Kristen bagi Pemuka Agama di Era Pluralisme
Year: 2025
Type: article
Abstract: This article discusses the internalization of Pancasila values within the framework of perennial philosophy as a strategy to strengthen tolerance and harmony among religious leaders in the era of pluralism. This approach integrates the understanding of Pancasila as a philosofische grondslag and interreligious hermeneutics, drawing on the thoughts of T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, and Andreas A. Yewangoe. The method employed is a qualitative, descriptive-reflective, and participatory approach, encompassing orientation, material presentation, focus group discussions (FGDs), written reflections, and follow-up through interfaith networking. The results indicate that Pancasila can serve as a common ground for interfaith engagement, fostering active appreciation of differences, reducing potential conflicts, and strengthening social solidarity. This strategy ensures that Pancasila values are not only understood conceptually but also embodied in collaborative actions. Thus, Pancasila functions as a unifying national ethos, relevant for building an Indonesian society that is peaceful, just, and united amid diversity.Indonesia sebagai bangsa plural masih menghadapi tantangan intoleransi dan diskriminasi berbasis agama, sehingga internalisasi nilai-nilai Pancasila bagi pemuka agama menjadi sangat mendesak. Artikel ini membahas internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam bingkai filsafat perenial sebagai strategi penguatan toleransi dan kerukunan bagi pemuka agama di era pluralisme. Pendekatan ini memadukan pemahaman Pancasila sebagai philosofische grondslag dan hermeneutika antaragama, dengan merujuk pada pemikiran T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, dan Andreas A. Yewangoe. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-reflektif berbasis partisipasi, meliputi orientasi, pemaparan materi, diskusi kelompok terfokus (FGD), refleksi tertulis, serta tindak lanjut jejaring lintas iman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Pancasila dapat menjadi titik temu lintas iman yang mendorong apresiasi aktif terhadap perbedaan, mengurangi potensi konflik, dan memperkuat solidaritas sosial. Strategi ini memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihidupi dalam aksi kolaboratif. Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai perekat kebangsaan yang relevan untuk membangun masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan bersatu di tengah keberagaman.
Source: Jurnal PKM Setiadharma
Author: Frans Pantan
Language: English
Subfield: Education
Field: Social Sciences
Domain: Social Sciences
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W4414164305
FWCI:
Cites:
Cited by:
Related to:
