Pemberian gel ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (ten) steenis) menghasilkan neovaskularisasi, ketebalan epitel, kepadatan kolagen dan menurunkan luas luka lebih baik dibandingkan terapi standar pada luka bakar mid-dermal tikus wistar
Year: 2024
Type: article
Abstract: Background: The healing process for mid-dermal burns tends to take 14-21 days, but it has a high risk of bacterial infections if not treated routinely. The combination of paraffin and sterile gauze is a common material for treating burn wounds. However, the need for routine dressing changes is associated with repeated trauma to new epithelial tissue, thereby hampering the wound-healing process. Binahong (Anredera cordifolia) leaf extract contains flavonoid, saponin, tannin, oleanic acid, and vitamin c which can promote wound healing. Binahong leaf extract in a gel preparation has the potential to optimize the wound-healing effect, because of its capability to maintain moisture and prevent wound expansion. Methods: True experimental research with a post-test-only approach involved 28 Wistar rats divided into two groups, namely control (K) and treatment (P) groups. Mid-dermal burn conditions were obtained by attaching a brass stamp that had been dipped in 100oC water for 10 minutes to the surface of the rat's skin for 10 seconds. The control group will receive standard wound care with paraffin gauze while the treatment group will receive binahong leaf extract ointment. The binahong leaf extract gel is made using a carbopol940 base and has a binahong leaf concentration of 5%. Wound extent and histopathological evaluation (collagen density, epithelial thickness, and amount of neovascularization) of the burn area were carried out on days 7 and 14 with seven random mice from each group on the day of evaluation of research variables. Result: On day 7, a significant mean difference was found between the two groups in the epithelial thickness variable, 12.06 ± 4.51 mm (K) vs. 26.29±11.73 mm (P) (p = 0.015); amount of neovascularizations, 20.43±2.99 (K) vs. 30.43±12.08 (P) (p = 0.001); collagen density, 1.71±0.49 (K) vs. 3.14±0.69 (P) (p = 0.003); and wound area, 0.934±0.581 (K) vs. 0.372±0.100 (P) (p = 0.025). Evaluation on day 14 also showed findings that were in line with the previous evaluation. The treatment group had significantly higher epithelial thickness (21.21±3.83 vs. 49.19±21.95; p = 0.02), amount of neovascularization (28.29±3.25 vs. 42.29±10.52; p = 0.004), and higher collagen density (2.43±0.53 vs. 3.43±0.53; p = 0.01), as well as lower wound area (0.584±0.351 vs. 0.169±0.049; p = 0.02). Conclusion: These findings indicate that binahong leaf extract gel is superior to paraffin gauze-based burn treatment on an in vivo scale, and has potential as a clinical mid-dermal burn wound treatment modality. Latar Belakang: Proses penyembuhan luka bakar mid-dermal membutuhkan waktu 14-21 hari, namun memiliki risiko komplikasi seperti infeksi bakteri yang tinggi apabila tidak dirawat secara rutin. Kombinasi paraffin gauze dan kasa steril merupakan bahan umum perawatan luka bakar, akan tetapi kekurangan berupa keperluan penggantian dressing yang rutin berasosiasi dengan trauma berulang pada jaringan epitel baru sehingga menghambat proses penyembuhan luka. Ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) mengandung flavonoid, saponin, tannin, asam oleanat dan vitamin c mampu mendukung proses penyembuhan luka. Ekstrak daun binahong dalam sediaan gel berpotensi menyebabkan efek penyembuhan luka bakar lebih optimal karena sediaan gel mampu menjaga kelembapan dan mencegah perluasan luka. Metode: Penelitian true experimental dengan pendekatan post-test only melibatkan 28 ekor tikus wistar yang dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok kontrol (K) dan perlakuan (P). Kondisi luka bakar mid-dermal diperoleh dengan menempelkan brass stamp yang telah dicelupkan pada air 100oC selama 10 menit ke permukaan kulit tikus selama 10 detik. Kelompok kontrol akan memperoleh perawatan luka standar dengan paraffin gauze sedangkan kelompok perlakuan memperoleh salep ekstrak daun binahong. Gel ekstrak daun binahong dibuat menggunakan basis carbopol940 dan memiliki konsentrasi daun binahong sebesar 5%. Evaluasi luas luka dan histopatologis (kepadatan kolagen, ketebalan epitel, dan jumlah neovaskularisasi) area luka bakar dilakukan pada hari ke-7 dan 14 dengan tujuh ekor tikus acak dari setiap kelompok pada hari evaluasi variabel penelitian. Hasil: Berdasarkan evaluasi pada hari ke-7, ditemukan perbedaan rerata yang signifikan antara kedua kelompok pada variabel ketebalan epitel, 12,06±4,51 mm (K) vs. 26,29±11,73 mm (P) (p = 0,015); jumlah neovaskularisasi, 20,43±2,99 (K) vs. 30,43±12.08 (P) (p = 0,001); kepadatan kolagen, 1,71±0,49 (K) vs. 3,14±0,69 (P) (p = 0,003); serta luas luka, 0,934±0,581 (K) vs. 0,372±0,100 (P) (p = 0,025). Evaluasi pada hari ke-14 juga menunjukkan temuan yang selaras dengan evaluasi sebelumnya, yaitu kelompok perlakuan secara signifikan memiliki ketebalan epitel (21,21±3,83 vs. 49,19±21,95; p = 0,02), jumlah neovaskularisasi (28,29±3,25 vs. 42,29±10,52; p = 0,004), dan kepadatan kolagen (2,43±0,53 vs. 3,43±0,53; p = 0,01) yang lebih tinggi, serta luas luka yang lebih rendah (0,584±0,351 vs. 0,169±0,049; p = 0,02). Simpulan: Temuan tersebut mengindikasikan gel ekstrak daun binahong lebih superior dibandingkan perawatan luka bakar berbasis paraffin gauze pada skala in vivo, dan berpotensi sebagai modalitas perawatan luka bakar mid-dermal secara klinis.
Source: Intisari Sains Medis
Institution: Udayana University
Language: English
Topic: Wound Healing and Treatments
Subfield: Rehabilitation
Field: Medicine
Domain: Health Sciences
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W4414836742
FWCI:
Cites:
Cited by:
Related to:
