Koinfeksi Pneumocystis Pneumonia (PCP) dan COVID-19 pada pasien dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV): sebuah tinjauan Pustaka
Year: 2025
Type: article
Abstract: Background: Pneumocystis Pneumonia (PCP) and COVID-19 are infections with serious implications, particularly in individuals with weakened immune systems, such as those with Human Immunodeficiency Virus (HIV). Both diseases present overlapping clinical manifestations, complicating the diagnosis of coinfections and potentially affecting patient management and prognosis. Methods: This study is a literature review that gathers and analyzes scientific publications related to PCP and COVID-19 coinfection in HIV patients. Data were collected from relevant scientific articles, case reports, cohort studies, and clinical guidelines to evaluate the pathophysiology, clinical manifestations, diagnosis, and management of this coinfection. Results: PCP and COVID-19 coinfections pose diagnostic challenges due to overlapping symptoms such as dry cough, dyspnea, and ground-glass opacities on chest imaging. Decreased CD4+ lymphocyte counts in HIV patients increase the risk of opportunistic infections like PCP. Accurate diagnosis requires a combination of PCR testing, (1,3)-beta-D-glucan assays, and radiological analysis. Proper management includes continued antiretroviral therapy (ART), administration of trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) for PCP, and antiviral and immunomodulatory therapies for COVID-19. Conclusion: Coinfection of PCP and COVID-19 in HIV patients requires special attention in diagnosis and management. Early identification and appropriate treatment can improve clinical outcomes and reduce mortality. Latar Belakang: Pneumocystis Pneumonia (PCP) dan COVID-19 merupakan infeksi yang memiliki dampak serius, terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV). Kedua penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang serupa, sehingga menyulitkan diagnosis koinfeksi, yang dapat mempengaruhi tatalaksana dan prognosis pasien. Metode: Studi ini merupakan tinjauan pustaka yang mengumpulkan dan menganalisis literatur terkait koinfeksi PCP dan COVID-19 pada pasien HIV. Data dikumpulkan dari berbagai publikasi ilmiah yang relevan, termasuk studi kasus, laporan kohort, dan pedoman klinis, untuk mengevaluasi aspek patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana koinfeksi ini. Hasil: Koinfeksi PCP dan COVID-19 menunjukkan tantangan dalam diagnosis karena adanya gejala yang tumpang tindih, seperti batuk kering, dispnea, dan ground-glass opacity pada pencitraan toraks. Penurunan jumlah limfosit CD4+ pada pasien HIV memperburuk risiko infeksi oportunistik seperti PCP. Diagnosis yang akurat memerlukan kombinasi pemeriksaan PCR, uji (1,3)-beta-D-glukan, serta analisis radiologis. Tatalaksana yang tepat melibatkan terapi antiretroviral (ART) yang berkelanjutan, pemberian rimethoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX) untuk PCP, serta terapi antivirus dan imunomodulator untuk COVID-19. Kesimpulan: Koinfeksi PCP dan COVID-19 pada pasien HIV memerlukan perhatian khusus dalam diagnosis dan tatalaksana. Identifikasi dini dan manajemen yang tepat dapat meningkatkan hasil klinis dan mengurangi mortalitas.
Source: Intisari Sains Medis
Author: I Desak Putu Agung Krisdanti
Institution: Udayana University
Language: English
Subfield: Epidemiology
Field: Medicine
Domain: Health Sciences
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W4414837262
FWCI:
Cites:
Cited by:
Related to:
