Year: 2026
Type: article
Abstract: Kegagalan banyak orang dalam menemukan titik tumpu di tengah tekanan mengindikasikan tidak cukupnya sekadar kemampuan bertahan hidup. Dalam konteks ini, sinema ketoprak hadir tidak semata sebagai media hiburan, melainkan menyediakan gambaran alternatif dalam merespons problematika hidup secara reflektif. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap resiliensi wong cilik menghadapi prekaritas hidup yang ditunjukkan dalam sinema ketoprak Dhagelan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat. Penelitian ini menggunakan analisis Charles William Morris yang mengkaji tanda melalui sintaksis, semantik, dan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara sintaksis, tokoh Darmo menampilkan kontras ironis antara kemampuannya di panggung dengan kehancuran hidupnya, sehingga resiliensi yang diperlihatkan justru tidak menyelesaikan masalah, melainkan memperkuat penderitaan. Secara semantik, tawa yang dia keluarkan bukan menunjukkan kebahagiaan, melainkan cerminan pahit dari kesedihan yang dia rasakan, sehingga resiliensi hanyalah sebuah ilusi yang tidak dia sadari. Secara pragmatik, meskipun aksi lucu Darmo bertujuan menghibur penonton, kenyataannya justru membuatnya terjebak dalam kepalsuan. Dengan demikinan, sinema ketoprak ini mengkritik pandangan bahwa resiliensi selalu positif, karena dalam sinema ketoprak ini, ketahanan hidup justru menjadi penipuan diri yang menghalangi keluar dari kondisi prekaritas.
Source: ESTETIK Jurnal Bahasa Indonesia
Language: English
Topic: Resilience and Mental Health
Subfield: Clinical Psychology
Field: Psychology
Domain: Social Sciences
Open Access status: diamond
OpenAlex ID: W7225030411
